Perjalananku
Aku terlahir dari keluarga menengah, kaya banget tidak miskinpun tidak. Ekonomi keluargaku lumayan dikarenakan ibuku giat banting tulang menjemput rejeki dengan berjualan nasi uduk, gorengan, gado-gado, sembako, sayur-mayur , minyak tanah, minuman dan banyak lagi.
untuk membantu Bapakku,Sedangkan bapakku kerja di pabrik kertas di daerah Bekasi dan oh iya kami tinggal di Cilincing Tanjung Priuk. Aku lahir dan besar disana sampai tamat SD.
Bapak dan Ibuku asli dari Solo Jawa Tengah, jadinya ya aku keturunan darah Jawa tapi aku kelahiran Jakarta. Masa kanak-kanak sampai lulus SD ku habiskan di Cilincing, dan aku menjalaninya dengan nyaman tanpa kekurangan dalam hal ekonomi.
Rumahku di Cilincing ini kalau menurutku terlalu bebas bukan saja saudara-saudara dari kampung, orang dari suku apapun dapat keluar masuk, tidur dan tinggal di rumahku sesukanya tanpa bayar. Aku juga heran sama ibuku dengan mudahnya menerima orang menumpang tanpa berfikir kalau "aku" anaknya sudah menginjak remaja putri, karena kebanyakan yang dia terima menumpang dan tidur di rumahku itu laki-laki.
Lulus SD aku melanjutkan ke SMP swasta karena nem ku kecil dan tidak dapat masuk ke smp negeri, aku sangat sedih. Akhirnya aku pun bersekolah di sekolah swasta yang berada dalam naungan angkatan laut di komplek TNI AL Dewaruci Cilincing.
Rasa sedih itu hilang dengan bertambahnya teman teman baru di SMP, masa belajarku di SMP berjalan sama seperti masa belajar anak-anak SMP lainnya.
Suatu kali pernah aku berkata ke teman-teman karibku di SMP kalau aku ingin seperti mereka yang bisa berangkat pulang dan pergi ke sekolah naik angkutan umum, sebab aku tidak perlu naik angkutan umum cukup berjalan kaki saja dari rumahku ke sekolah karena jarak sekolahku dengan rumah tidak terlalu jauh dan itu membuatku merasa iri (yang mana tidak seharusnya aku iri pada mereka).
Dan dalam beberapa bulan saja hal itu benar-benar terjadi padaku. Aku mulai merasakan naik angkutan umum (bus kota) dengan jarak yang lebih jauh dari teman-teman karibku di SMP, tidak tanggung-tanggung aku harus naik bus dari kota Bekasi ke Jakarta Utara.
Hal itu terjadi karena orang tuaku bercerai dan mengharuskan aku, ibu dan ke dua adikku pindah ke kota Bekasi sedangkan Bapakku masih tinggal di rumah yang di Cilincing. Aku sempat merasa rendah diri dan malu di hadapan teman-temanku untungnya mereka tidak pernah bertanya apapun di depanku tentang apa yang terjadi pada keluargaku, entah kalau di belakangku masa bodolah.
Perceraian itu berdampak buruk padaku, aku yang tadinya gampang dalam bergaul dan mempunyai banyak teman menjadi menutup diri tentang apapun kecuali pelajaran, dan perasaan itu terbawa hingga saat ini dan membentuk pribadiku yang tertutup.
Syukur alhamdulillah aku di beri kelebihan yang jarang orang punya, ya dalam masa terpuruk itu aku menjadi siswa yang pandai. Menjadi anak pandai di kelas menjadikanku di senangi banyak teman dan mengesampingkan tragedi perceraian orangtuaku. Aku masih ingat betul kala Ibu bertanya padaku
"kamu mau ikut siapa Bapak apa Ibu?"
tentu saja aku jawab:"Ikut Ibu"
karena kalau harus jujur aku bingung sebetulnya mau ikut siapa?. Di kota inilah kehidupan ekonomi keluargaku amburadul morat marit tidak karuan dan tentu saja berimbas padaku. Yang tadinya tinggal di rumah sendiri (tidak mengontrak),sekarang kami mengontrak kamar petakan.
Rumah kami di cilincing walaupun tidak bisa di bilang besar tapi cukup lengkap dan nyaman dengan kamar mandi dan wc di dalam rumah, sekarang kami mengontrak petakan kecil 3 kamar dengan kamar mandi dan wc yang di pakai berbagi bersama-sama dengan pengontrak lain.
Untuk urusan uang sakuku pun aku merasa seperti di jungkir balikan, dulu waktu SD aku bisa mendapat uang saku sebesar Rp 500,- sehari (untuk ukuran saat itu uang segitu sudah besar, aku dapat membeli bakso, siomay, es, cakwe, bisa jajanin teman dan masih banyak lagi.
Tapi sekarang kalau aku minta uang untuk ongkos naik mobil dari Bekasi ke Cilincing untuk berangkat dan pulang sekolah sebesar Rp 500,- saja aku harus di ping pong sana sini, sama Bapak dan Ibuku. Kalau aku minta uang sama Bapak disuruh minta ke Ibu begitupun sebaliknya.
Ketika aku sudah di SMP uang sakuku tetap Rp 500,- itupun harus mencukupi untuk ongkos angkutan umum, membeli peralatan sekolah yang aku butuhkan dan jajan kalau ada sisanya dan hal itu terus berlanjut sampai aku sekolah di SMK uang sakuku tetap hanya Rp 500,-.
Aku menjadi anak broken home untungnya aku unggul di pelajaran, dan tidak sampai salah jalan ke arah yang negatif. Akibat dari perceraian itu Ibu dan Bapakku bermusuhan dan tidak dapat berkomunikasi dengan baik karena Bapakku merasa sakit hati dan tidak terima melihat Ibuku menikah lagi dengan tetangga kami yang dulu sering makan di warung Ibu.
Menurut Bapakku Ibuku telah berselingkuh dengan tetanggaku itu. Hal itu membuat Ibuku takut kalau-kalau Bapakku melihat atau mengetahui keberadaannya dengan Bapak tiriku, akan membuat Bapak kandungku hilang akal dan berbuat nekad, yang akan membahayakan diri Ibuku dan Bapak tiriku maka diambillah kesepakatan.
Untuk mengecoh Bapak kandungku aku dititipkan sementara di rumah bulikku yaitu adik kandung perempuan dari pihak ibuku. Bulikku ini tinggal di kampung Dua Ratus Margajaya Bekasi sementara Ibuku tinggal di Kranji, dan pada hari Sabtu atau Minggu aku akan pulang ke Kranji atau ke Cilincing untuk minta ongkos untuk pulang dan pergi ke sekolah esok harinya.
Untuk perkawinan yang ke dua ini Ibuku menjadi istri ke dua bisa dibayangkan kan bagaimana ekonomi keluarga kami?. Tak jarang ketika aku ingin berangkat sekolah dan uang sudah tidak ada lagi di tangan, dan untuk membeli beras dan lauknya Ibu menyuruhku menjual peralatan rumah tangga seperti piring-piring PIREXnya (waktu itu memang sedang trend buat keluarga- keluarga yang berpunya) yang ia beli dan di kumpulkannya sebagai koleksi sewaktu tinggal di cilincing priok dari salah satu tetangga kami yang seorang pelayaran.
Sewaktu masih menjadi istri pertama dari Bapakku saja ibuku sudah rajin ikut membantu menjemput rejeki dengan berdagang, yang mana gaji tidak di bagi-bagi hanya untuknya. Apalagi ini ibu menjadi istri ke dua, ibu harus semakin rajin berdagang. Di Kranji ini pun Ibuku tetap berjualan, hanya yang ibu jual adalah makanan untuk membiayai hidup kami.
Aku memang baru beranjak remaja waktu itu tapi aku mencoba memahami keadaan yang berbeda ini, dengan menerima apa adanya dengan tidak banyak menuntut apapun dari Bapak maupun Ibuku. Karena jarak yang jauh dari Bekasi ke sekolahku di Cilincing maka aku mau tidak mau harus berangkat lebih awal.
Tidak ada masalah dengan ini sebenarnya, karena aku memang mempunyai kebiasaan baik selalu bangun Subuh, bahkan sebelum subuh jadi tidak ada kesulitan yang berarti sedikitpun dengan bangun pagi ini. Aku bersyukur mempunyai kebiasaan baik yang aku punya dan terbentuk dengan sendirinya sampai sekarang.
Setiap pagi aku berangkat ke sekolah dengan naik bus PPD 910 jurusan Bekasi-Priok jaman itu ongkosnya masih Rp 50,-. Suatu Pagi seperti biasa ketika aku sedang menunggu bus PPD 910 di halte Pemda Bekasi, aku lihat ada seorang pemuda dan teman wanitanya (dari seragamnya pastilah mereka siswa SLTA karena seragam mereka putih abu-abu) sedang bersenda-gurau di halte yang sama denganku.
Aku berfikir "enak ya bila ada teman seperjalanan dan satu tujuan bisa bercerita dan bercanda seperti mereka". Dalam pikiranku mereka itu satu tujuan atau sekolah di sekolah yang sama tapi ternyata aku salah, mereka tidak satu tujuan. Si wanitanya naik mayasari 506 jurusan Pulogadung sedang teman prianya ternyata naik bus yang sama denganku PPD 910.
Sedang asyiknya melihat mereka dan sibuk dengan fikiranku tentang mereka, setelah teman wanitanya sudah naik kemobil,
tiba-tiba si pemuda menyapaku: "naik mobil jurusan mana de?"
Aku tentu saja gelagapan ditanya secara tiba-tiba olehnya, karena memang aku sedang memikirkan mereka. Dengan rasa terkejut yang luar biasa aku menjawab :"Priok kak".
"Sekolah di SMP apa?" tanyanya lagi.
"SMP Hang tuah 1 kak" jawabku.
Lalu dia berkata lagi "nah itu mobilnya datang ayo kita naik".
Memang tak lama berselang ada mobil PPD 910 berhenti untuk menaikan kami. Kejadian itu terus berulang untuk esok dan seterusnya. Dikarenakan tiap hari bertemu di halte, naik mobil yang sama dan turunpun di tempat yang sama kamipun menjadi dekat.
Hari-hari kami lalui dengan bersenda-gurau ada saja yang menjadi bahan candaannya. Pernah suatu ketika dia bertanya:
"dek tinggalnya di belakang pemda sinikan alamat tepatnya dimana?"
hatiku berbunga-bunga seketika, aku berfikir dia ingin main ke rumah bulikku.
aku menjawab: " kampung dua ratus kak"
dan dia berkata lagi " bukannya sekarang udah naik ya jadi dua ratus lima puluh" ledeknya.
kamipun tertawa bersama entah sejak kapan tepatnya aku menaruh hati padanya. Ini cinta pertamaku rasa sukaku yang pertama, orang-orang tua bilang itu cinta monyet.
Tiap pagi aku selalu rajin menunggunya di halte pemda untuk berangkat sekolah bersama kecuali minggu, ini juga yang membuatku semangat sekali masuk sekolah. Masih sama seperti kemarin aku menunggu bus dan juga menunggu si kakak namun dia belum datang-datang, tak berapa lama ada bus jemputan karyawan dan ada pria yang naik ke bus itu, si pria mengajakku untuk naik, akupun ikut naik bus itu. Lumayanlah ketimbang naik ppd tidak dapat duduk, naik bus ini dengan bayaran yang sama aku dapat duduk lagi betapa beruntungnya aku.
Esoknya kuulangi lagi menunggu bus jemputan karyawan itu, kulihat si kakak sudah ada dari arah seberang namun dia tidak menyebrang jalan menuju ke halte, dia malah duduk di seberang jalan, kulihat bus jemputan karyawan itu sudah ada dan berhenti di depanku, sepertinya pak sopirnya sudah hafal denganku, akupun naik tanpa mengajak si kakak, bagaimana juga mengajaknya kan terhalang oleh bus besar yang ku naiki itu.
Di keesokan harinya sama seperti hari kemarin aku menunggu bus jemputan karyawan itu, tapi bedanya kali ini aku naik bareng si kakak, seperti biasa banyak candaan, godaan si kakak di berikan buatku, kami tertawa bersama membuatku makin suka padanya. Tapi sepertinya hanya aku yang suka padanya sedang si kakak tidak menaruh rasa apapun padaku, itu semakin nyata terlihat ketika ada Pameran Pembangunan di Bekasi.
Pulang dari sekolah aku mengajak teman-teman karibku melihat Pameran Pembangunan itu, tidak disangka si kakak juga ke Pameran Pembangunan itu, kulihat dia main bola volly dan setelahnya dia bersenda gurau dengan gadis lain lagi entah dia melihatku atau tidak. Aku kesal juga marah pada diriku sendiri yang begitu gampang menaruh hati dan menyukainya.
Hingga suatu ketika aku mendapatkan menstruasi pertamaku yang menandakan aku sudah baligh tapi Ibu dan bulikku tidak menaruh perhatian sedikitpun pada hal itu,bukannya aku di belikan pembalut atau semacamnya aku malah di beri kain-kainan yang daya serapnya tidak sempurna.
Turun dari bus aku merasakan "kebocoran" yang dahsyat aku hanya bisa diam mematung, berharap "kebocoran itu" segera berhenti tapi apa lacur "kebocoran itu" tidak mau berhenti, malah mengalir deras ke arah kaki dan terus sampai ke kaos kaki juga sepatuku.
Tepat disaat itu si kakak itu turun dari bus sambil tertawa dia ingin mengatakan sesuatu padaku, tetapi ia melihat wajah kepanikanku dan dengan refleknya dia melihat kebawah kakiku,secepat kilat dia berbalik untuk menyebrang jalan di teruskan menyambung naik bus metromini ke arah sekolahnya.
Aku malu sekali aku berlari dan berlari kearah rumah Bapak sambil memaki-maki tidak jelas dan entah di tujukan pada siapa?. Sesampainya di rumah Bapakku dari arah belakang, pintu kamar mandi ku gedor-gedor sambil kupanggil Bapak dengan berteriak-teriak.
Tak lama Bapak membukakan pintu kamar mandi aku menghambur lari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan "kebocoran". Selesai kubersihkan dan kucuci pakaianku yang bernoda aku pergi ke kamar tidur Ibu dan Bapak yang mereka gunakan dulu di ruang tengah, aku mencari pakaian dalam Ibu yang mungkin tertinggal di lemari, yang dapat aku pakai sementara waktu, bagusnya aku menemukannya walaupun ukurannya terlalu besar untukku.
Beres semua aku minta uang ke Bapak untuk membeli pembalut dan pakaian dalam untuk ukuranku juga rok seragam biru. Bapak memberiku uang akupun pergi ke pasar tradisional yang jaraknya lumayanlah dari rumahku untuk membeli semua yang aku butuhkan termasuk rok seragam biru juga kaos kaki dengan berjalan kaki.
Setelah semuanya kudapatkan aku cepat-cepat berangkat ke sekolah, yang istimewa di hari itu adalah isi tasku bukan penuh dengan buku tapi penuh dengan pembalut dan pakain dalam juga rok seragam biruku yang "kecelakaan" buku-buku pelajaran aku dekap/tenteng di tangan. Untungnya di zaman itu belum ada yang namanya sidak oleh kakak kelas atau guru, kalau sudah ada betapa malunya aku.
Esoknya ketika aku tiba di halte pemda untuk berangkat sekolah aku tidak bertegur sapa dengan si kakak, padahal aku sudah memikirkan jawaban yang akan ku berikan jikalau dia bertanya tentang kejadian kemarin, tapi itu hanya khayalanku saja.
Mulai dari kejadian itu aku dan si kakak seperti orang asing yang tidak saling mengenal, tidak pernah ada percakapan, candaan apapun lagi. Sekedar hanya berkata hai..... daaa......... saja tidak pernah lagi kami lakukan. Aku merasa kehilangan dirinya. Aku merindukan bercanda bergurau dengannya.
Dalam kebisuan kami si kakak pernah mengajakku naik bus mayasari dan turun di prapatan cakung, karena sudah ada beberapa bus ppd yang kami stop tidak mau berhenti. Tapi aku menolak dan tetap menunggu ppd syukurlah bus berikutnya yang aku stop mau berhenti dan aku dapat naik juga, sampai di prapatan cakung aku melihat si kakak masih menunggu bus belum menyambung naik bus lagi.
Di suatu pagi aku naik bus ppd bareng si kakak dia memberikan surat berwarna biru, aku gembira sekali, hatiku dag dig dug cepat sekali seperti mau copot, melompat-lompat tidak karuan. Aku berjalan sangat cepat menuju sekolah, sampai sekolah aku masuk kelas karena memang masih pagi jadi masih sepi belum banyak teman-temanku yang datang dan aku dapat membaca surat si kakak dengan tenang.
Selesai membaca surat itu aku ingin berteriak dan melompat-lompat kegirangan karena si kakak menyatakan rasa sukanya padaku. Aku tidak berfikir panjang apakah itu cuma rasa iseng, rayuan atau gombalannya si kakak untuk semua wanita. Mata hatiku telah di butakan oleh rayuannya, yang aku tau aku senang itu saja.
Namun setelahnya di tiap pagi dan pulang sekolah aku tidak dapat bertemu dengannya lagi, setiap hari kutanyakan pada adik-adik kelasnya jika mereka tahu dan melihat si kakak. Tapi harapan tinggal harapan, si kakak raib hilang entah kemana. Aku selalu berharap dapat bertemu dan melihatnya namun nihil, si kakak tidak ada kabar dia menghilang begitu saja bagai di telan bumi.
Aku seperti kembali dari awal lagi hanya sendiri disini di halte ini.Pagi itu aku mendapat rejeki, aku melihatnya dari atas bus, dia menunggu bus di Alexindo terjawab sudah teka-teki ini rupanya dia sudah pindah rumah tapi kulihat dia agak murung, tidak seperti waktu masih menunggu bus di halte pemda denganku.
Kalau memang surat itu benar seperti yang dia tulis, dia suka padaku, tidak akan mungkin dia tidak berpamitan padaku ketika dia akan pindah rumah. Tidak adanya si kakak yang secara tidak langsung menjadi penyemangatku di pagi hari, membuatku mengambil keputusan pindah ke kranji tinggal bersama Ibu dan kedua adik juga Bapak tiriku.
Tinggal di tempat baru aku perlu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Seperti yang telah di ketahui tak jarang untuk mencukupi makan kami, ibu menyuruhku menjual perabotan rumah tangga yang ia miliki yang masih ada harganya.
Untuk kali ini Ibu menyuruhku menjual selimut yang dia beli dari pabrik selimut yang ada di belakang kontrakan kami. Ibu menyuruhku menjual selimut itu ke priok. Ibu menyuruhku membawa selimut di pagi hari bersamaan aku berangkat sekolah, tanpa banyak kata selimut itu kubawa walau bertentangan dengan kemauanku, ibu berharap ketika pulang aku membawa uang hasil jual selimut itu untuk biaya makan kami.
Dalam fikiran remajaku kala itu aku malu membawa selimut dengan naik bus ppd yang berdesak desakan. Mempunyai fikiran seperti itu tanpa pikir panjang aku ke rumah temanku bertujuan untuk menitipkan selimut dan pulang nanti aku ambil kembali.
Pulang dari sekolah aku mampir ke rumah temanku dulu mengambil selimut, tanpa sepengetahuanku, ibunya temanku itu ke rumahku dan bertanya pada ibuku mengenai selimut yang kubawa. Sampai di rumah aku dimarahi ibuku,itu adalah yang terakhir Ibu menyuruhku menjual barang-barang untuk biaya makan kami.
Karena setelahnya jualan ibu laris manis banyak pegawai pabrik selimut juga tetangga, ada pula pemuda-pemuda SLTA tetangga kami yang telah mengetahui, lalu membeli dagangan ibuku. Alhamdulillah aku lulus SMP dengan nem tertinggi di sekolah dan aku dapat masuk ke SMK negeri dengan mudah.
Aku bersekolah di SMK Negeri di daerah Ancol. Alhamdulillah selama 3 tahun aku bersekolah di SMK ini aku mendapat beasiswa dari sekolah. Tidak ada cerita yang menarik di SMK ini semua berjalan biasa sama seperti anak-anak lainnya.
Bertepatan dengan lulusnya aku dari SMK, keluargaku pindah ke Bekasi dekat dengan kontrakan bulikku. Dari aku lulus SMP dan juga lulus SMK, si kakak itu tetap tidak ada kabar, akupun mulai mengubur cerita tentang si kakak, walau tak jarang ketika berangkat ataupun pulang sekolah aku masih mencari-cari jejak si kakak.
Aku masih berharap dapat bertemu atau melihatnya. Satu hari setelah lulus aku minta tolong kakak sepupuku agar dapat membawaku bekerja di tempat dia bekerja. Kakakku memberitahuku, harus membuat surat lamaran kerja dan persyaratan lengkap lainnya. Esok harinya aku mengurus sendiri persyaratan-persyaratan itu.
Beberapa hari kemudian aku menyerahkan persyaratan itu ke kakakku. Keesokan harinya kakakku memberikan kabar aku harus wawancara kerja dengan HRD pabrik kamera foto tersebut.
Setelah wawancara dengan hrd, aku diterima bekerja dengan terlebih dahulu di training selama satu minggu. Masa training selesai aku di tempatkan di tempat penyolderan komponen elektronik kamera foto. Dan akhirnya aku bekerja untuk pertama kalinya. Berbeda dengan sekolah di tempat kerja ini pintar tidak terlalu di perhatikan yang penting bisa nyari muka atasan selesai sudah.
Lingkungan kerja berbeda dengan lingkungan sekolah. Di sekolah dulu walau lebih banyak kaum adamnya tapi tidak seperti di pabrik ini. Di pabrik ini banyak dari kaum adamnya terlihat lebih menarik, lebih mempesona.
Lumayanlah buat cuci mata melihat yang seger-seger penghilang suntuk sebelum dan sehabis kerja. Ada yang aku suka dengan seniorku di pabrik ini menurutku dia diatas rata-rata. Meja kerjanya selalu ku lewati ketika masuk, istirahat dan pulang kerja.
Karena untuk sampai ke ruangan kerjaku aku harus melewati meja kerjanya terlebih dahulu. Setiap aku lewat di samping meja kerjanya aku selalu memandanginya dengan sembunyi-sembunyi, baru beberapa kali aku mempunyai kebiasaan yang menyenangkan buatku rupanya sang senior itu paham kalau aku menyukainya.
Di Suatu pagi seperti biasanya aku dan teman-temanku melewati meja kerja sang senior tanpa di sangka-sangka sang senior marah-marah tanpa ada sebabnya. Sang senior selalu marah-marah setiap aku dan teman-temanku lewat di samping meja kerjanya. Mungkin itu cara dia menolak mentah-mentah aku dan ternyata memang ampuh.
Aku yang memang gampang sekali sebal dengan orang yang menyebalkan langsung berbalik 180. Dari yang tadinya menyukainya jadi benci gak ketulungan, biarpun dia mempunyai paras yang rupawan buat apa kalau sikapnya gak bagus.
Apa susahnya dia bersikap baik padaku? tidak mau membalas rasa sukaku padanya itu urusan belakangan. Aku juga tidak memaksa dia harus suka padaku, tidak suka ya sudah tidak ada yang salah dengan itu.
Baru kali ini aku mendapatkan perlakuan seperti itu. Biasanya bila aku menyukai seseorang, maka akan berbalas tapi yang ini menjadi pengalaman yang kurang baik untukku. Walau aku tidak di anugerahi paras yang amat memikat, cantik rupawan tapi aku juga tidak jelek-jelek amat. Semenjak sekolah dari sd sampai smk dulu, aku banyak di sukai teman-temanku, tidak sedikit yang menaruh hati padaku.
Kejadian itu tidak membuatku patah semangat untuk mencari yang seger-seger lainnya yang lebih manusiawi. Tidak mengapa tidak membalas rasa sukaku yang pasti orang itu baik pada semua orang.
Setelah melihat kesana kemari ada senior lain yang membuatku terpesona, untuk yang kali ini aku dan sang senior satu bagian satu ruangan. Diam-diam aku memperhatikannya setiap hari. Mungkin ini memang salah satu keahlianku (padahal dulu aku sekolah di SMK yang kebanyakan temanku adalah kaum adam).
Tapi itu tidak menghilangkan kepribadianku yang tertanam dari kecil bahwa menurutku wanita tabu untuk memperlihatkan rasa sukanya duluan. Terlebih lagi aku mempunyai pengalaman cinta pertama yang tidak mengenakkan.
Di ruangan kerjaku ini, tiap pagi rutin ada meeting harian yang membahas persoalan yang berhubungan dengan proses perakitan camera foto atau ada pertanyaan dan pengumuman-pengumuman.
Si senior mempunyai tempat berdiri tetap, di seberang meja di depan dinding kaca, sedang di belakangnya adalah ruangan bagian gudang, yang mana memberikan keuntungan buatku.
Bisa dengan leluasa memandangi si senior itu dengan puas sampai meeting selesai. Lumayankan dapat suntikan semangat untuk memulai kerja dari pagi sampai sore.
Belum lama bekerja bude (istri dari kakak kandung ibuku) memberi kabar kalau pakdeku, yaitu kakak kandung laki-laki dari ibuku kecelakaan dan dirawat di rumah sakit Islam pondok kopi.
Ibu mengajakku untuk menengok pakde di rumah sakit Islam pondok kopi itu. Pulangnya ketika aku sedang menunggu mobil angkot jurusan kranji, di depan rumah sakit Islam pondok kopi, aku berharap dapat bertemu dengan seniorku di tempat kerja. Yang sering aku pandangi setiap pagi itu, karena dari yang aku dengar ketika berbincang dengan teman senior yang lain, rumahnya si senior yang selalu aku pandangi itu di daerah sini juga.
Tidak lama di rawat di rumah sakit aku kehilangan pakdeku (meninggal dunia). Di waktu yang bersamaan pabrik tempatku bekerja mengadakan tour ke Cibodas, karena aku masih anak training dan belum genap satu tahun masa bekerjanya maka tidak dapat mengikuti tour tersebut.
Selama satu minggu ini aku pulang dan pergi kerja dari rumah bude di cakung. Karena keluargaku minus bapak tiriku menemani bude dan anak-anaknya yang sedang dalam masa berkabung.
Seperti yang sudah di ketahui kalau aku itu terbiasa bangun pagi, maka sampai tempat kerjapun aku selalu datang paling awal. Karena masih pagi dan belum ada teman yang datang, ruangan kerjapun masih gelap. Tidak di sengaja aku mempunyai kebiasaan yang menguntungkan buat diriku. Setelah mengganti baju dengan baju seragam kerja dalam, aku akan langsung duduk di kantin menunggu si senior datang.
Jika aku sudah melihat dia datang, puas sudah rasanya lalu aku akan melanjutkannya dengan berjalan naik dan masuk ke ruang kerja, siap-siap mencari tempat yang tepat untuk dapat memandangi si senior dalam meeting pagi. Kebiasaan itu selalu dan selalu aku kerjakan.
Suatu ketika aku hampir ketahuan, seniorku itu mungkin merasakan kalau ada yang sedang memperhatikannya. Tiba-tiba saja dia melihat ke arahku, dan seketika itu juga dengan agak sedikit kaget, aku akan langsung mengarahkan pandanganku ke kaca di belakangnya. Yang mana ruangan belakangnya adalah ruangan gudang, jadi amanlah kebiasaanku itu.
Setiap pagi hari, hal itu selalu kulakukan tidak pernah terlewat satu haripun, kecuali hari libur. Dan tentunya akan berimbas pula pada liburnya kebiasaanku itu. Anehnya si senior tidak menyadarinya atau pura-pura tidak tau dan membiarkan saja.
Mungkin di pikirannya membuat orang lain senang dapat pahala. Bertolak belakang benar dengan seniorku yang terdahulu ya. Aku sudah merasa cukup puas walau hanya bisa memandangi dan mengagumi ciptaan allah dari jarak beberapa puluh meter ini.
Lucunya lagi, pernah di suatu sore ketika aku sedang kerja setelah istirahat makan siang, sekitar jam 2 aku merasa ngantuk yang amat sangat, dan dalam keadaan terkantuk-kantuk tiba-tiba aku mendengar suaranya sang senior.
Suaranya ada di belakangku, rasa kantukku langsung menguap seketika, menghilang entah kemana. Aku langsung melihat kaca di depanku, sambil dengan tetap bekerja aku mencuri-curi lihat pantulan gambarnya di kaca.
Ini rupanya keajaiban dari rasa suka, ya aku cinta padanya pada pandangan pertama. Dalam pandanganku kala itu, pria itu amat menarik orangnya pendiam tidak banyak bicara, pintar dan sudah punya jabatan.
Di hari yang lainnya, di sabtu sore ketika itu aku pulang dari lembur. Waktu itu aku sedang menunggu angkot,tidak seperti biasanya aku belum juga mendapatkan angkot. Susah sekali angkot berhenti di dekatku. Dari mulai belum ada banyak teman-teman karyawan hingga hampir habis teman-teman karyawan belum juga aku dapat angkot.
Hingga tiba-tiba temanku yang sama-sama menunggu angkot denganku berkata
"itu pacarnya adam ya?"
Aku yang memang jatuh hati padanya langsung melihat ke arah seberang jalan,dan ya...... memang benar disana ada si senior, yang aku sering pandangi dari jauh itu, sedang naik angkot bersama wanita cantik imut-imut ke arah pulo gadung.
Seketika itu juga hatiku patah, pandanganku tak henti-hentinya kuarahkan ke arah pulogadung, aku berharap dia tidak naik angkot itu. Sampai di rumah, tanpa ganti baju dan mandi, Aku berkeluh kesah pada tetanggaku.
" yah dia udah ada yang punya saf, hilang udah kesempatan buat kenal, dekat ama dia" keluhku.
Temanku itu bilang:"sabar mba' nanti juga ada yang lain" begitu katanya.
Anganku mulai melayang sudah 3 kali ini aku selalu bernasib kurang baik dalam hal menyukai. Aku mulai membunuh rasa sukaku itu, aku harus melenyapkannya, aku tidak boleh menyukai orang yang sudah punya pacar. Aku tidak boleh merusak hubungan orang lain yang sudah berjalan.
Untuk hari-hari ke depannya, jika jam istirahat tiba setelah makan siang, si wanitanya pacarnya si senior itu, mulai sering main ke bagianku, tentu saja menjadi bahan gurauan dan ledekan teman-temannya. Aku harus menahan rasa tidak sukaku padanya, Apa ini cemburu? memang siapa aku ini? berani benar mempunyai rasa itu.
Susah sekali aku membunuh rasa suka itu, dengan segala cara aku mencoba untuk melenyapkan rasa itu, tapi aku juga tidak pernah berhenti melakukan kebiasaanku di setiap pagi. Pelan-pelan aku mulai mencoba untuk melupakan sang senior dan sedikit-sedikit aku mulai hampir dapat melenyapkan dan membunuh rasa yang ku punya.
Suatu ketika diadakan lomba kebersihan yang diikuti oleh semua departemen, dan departemen bagianku memenangkan lomba tersebut yang berhadiah rekreasi ke Selabintana. Dalam piknik tersebut bus yang kami tumpangi mengalami kerusakan bocor radiator, bus berhenti di bahu jalan tol dan sang kenek mencari air.
Agak lama juga sang kenek mencari air, karena bus tidak ada pendinginnya maka ada sebagian dari teman-teman dan senior kami yang laki-laki turun dari bus. Aku yang memang tomboy (karena aku sekolah di SMK yang dalam angkatanku hanya aku yang wanitanya) ikutan turun dari bus dan duduk di besi pembatas, sekedar mencari angin karena di dalam bus panas.
Sang senior mendekatiku dan meminjam jaket yang kupakai.
"Boleh pinjam jaketnya nggak" katanya.
Aku baru menyadari ada si senior, secara spontan dan tidak menunggu lama jantungku berdegup sangat kencang, aku mencoba bersikap biasa dan mencoba menenangkan debaran jantungku yang sangat kencang ini. Aku memang ingin melupakan si senior ini karena memang aku sedang berusaha melupakan rasa suka yang ku punya. Tanpa menjawab ya dan tidak, Aku langsung membuka jaketku dan kuberikan padanya.
Karena sebenarnya yang aku rasakan aku kegirangan bukan main, akhirnya dia tahu aku ada. Hari itu menjadi pengalaman yang menyenangkan buatku sebenarnya, aku sengaja berusaha untuk melupakan kalau sang senior ikut juga dalam piknik itu.
Satu hari itu pula aku lupa memperhatikan sang senior karena dikalahkan rasa senang bisa pergi ke tempat baru yang belum pernah aku datangi, sampai ada kejadian di pagar pembatas tol itu.
Tiba di Selabintana sudah siang karena harus selalu berhenti mencari air untuk bus, tapi itu tidak jadi masalah buatku karena baru pertamakali itu aku bisa jalan-jalan ke luar kota dan untungnya lagi gratis.
Jam menunjukan angka 12 siang, akupun pergi ke kamar kecil untuk mengambil air wudhu di lanjutkan ke musholla untuk sholat. Dalam perjalananku menuju mushalla aku berpapasan dengan sang senior yang sudah kembali dari mushalla tanpa ada aba-aba terlebih dahulu jantung ini langsung berdetak sangat kencang kembali. Aku grogi bukan kepalang melihat si senior yang kembali untuk bergabung di tempat kami berkumpul, demi menghilangkan rasa grogiku yang tiba-tiba datang.
aku bertanya sekenanya "aduh gak bawa mukena ada mukenanya gak ya?"
pertanyaan asal yang tak perlu jawaban sebenarnya mana mungkin masjid tidak terdapat mukena sedang mushalla aja pasti ada mukena.
Tak disangka si senior menjawab "ada kok banyak ko yang sholat" katanya.
Masih dengan degup jantung yang sangat kencang aku meminta tolong si senior untuk memakai jaketku kembali dan dia menerimanya dan kalau saja tidak ada orang dan aku tidak malu mau rasanya bersorak kegirangan walaupun dalam hati, kalau boleh ingin rasanya melompat-lompat tapi pikiran warasku melarang untuk melakukannya. Tidak lama berselang acara inti selesai, panitia memberikan acara bebas buat kami, aku membuka bekal dari rumah yaitu rujak juga beberapa camilan dan teman-temanku mengambilnya, aku yang memang sedang menenangkan hatiku yang berdetak tidak karu-karuan merebahkan diri tiduran di tikar yang dipasang panitia dan sang senior mengajakku pergi dari tempat berkumpul kami.
"Jangan disini loh nanti disuruh ngurusin peralatan ini" katanya.
Akupun bangkit dari tiduran dan berkata "yang benar?".
"iyalah terus siapa yang mau ngurusin peralatan itu, semuanya kan juga pada pergi" katanya lagi.
Memang ku lihat cuma tinggal aku dan beberapa temanku yang kalau di jumlahkan tidak genap 10 orang. Walaupun dengan degup jantung yang sangat kencang kami beranjak pergi dari tempat berkumpul itu dan berjalan tak ada tujuan yang pasti, menjauhi tempat tadi kami semua berkumpul.
Aku melihat pemandangan di depanku, ada banyak pohon teh yang hijau menghampar. Aku berjalan paling depan, di jalan setapak diantara pohon-pohon, secara tidak sengaja aku menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya aku, kulihat tak ada satupun teman-temanku yang tadi berjalan di belakangku. Entah kemana perginya mereka anehnya mereka tidak memberi tahu aku dulu.
Aku agak khawatir dengan keadaan itu karena ternyata aku hanya tinggal berdua saja dengan si senior ini. Kalau mau jujur entah bagaimana menggambarkan perasaanku kala itu ada senang, bahagia, takut, campur aduk jadi satu. Aku sedang bersama dengan pacar orang, ini tidak benar .
Aku bertanya padanya "loh yang lain pada kemana kak kita balik aja yuk?" kataku.
namun si senior bilang "kita kesana aja ya"
dan diantara pohon-pohon dia mengajakku duduk.
"Duduk disini aja deh" katanya.
Aku hanya berdiri dan menunduk melihat tanah yang kupijak tidak berani melihat apapun sambil aku tetap berusaha menenangkan debaran jantungku. Aku merasakan mukaku menghangat, aku bisa membayangkan bagaimana raut mukaku saat itu, pastilah sudah berubah warna. Aku takut dia menyadari kalau aku suka padanya, aku tidak ingin dia tau kalau aku menaruh hati, jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Aku ingin tetap dapat memandanginya, mengaguminya dari jauh di hari besok, besok dan besoknya lagi.
Karena aku tetap berdiri dia menarik tanganku menyuruhku duduk, aku duduk namun tetap dalam keadaan menunduk tidak berani menoleh apalagi memandang wajahnya. Aku salah tingkah, grogi setengah mati untuk menutupinya aku menunduk tapi jari telunjukku mempermainkan tutup kunci roda tas yang kupinjam dari tetanggaku.
Dia berkata "saya mau tidur bentar, kamu cerita deh"
"cerita apa kak" walau menjawab aku tetap menunduk
melihat tas yang ada di pangkuanku, aku mulai berpikir aku harus mendongeng supaya tidurnya bisa lebih pulas.
" ya cerita apa aja" katanya,
karena aku tetap diam, dia mulai bertanya
"dulu pernah punya pacarkan? cerita itu aja deh".
Akupun berkata jujur
"saya pernah suka tapi dianya gak suka dan gak pernah ada kabarnya lagi, dia tinggalin saya begitu aja"
"ekhm akhirnya orang-orang yang tersakiti di pertemukan" begitu katanya,
aku tidak begitu mengerti apa yang dia maksud, mungkin dulu dia juga pernah suka pada seseorang dan tidak berakhir baik sepertiku sangat mungkin bukan?.
Aku sangat aneh mendengarnya karena dari yang aku lihat dan dengar dari senior senior yang lain, si senior ini menurutku seorang playboy. Sudah ada beberapa wanita-wanita yang dia dekati lalu dia tinggalkan begitu saja, pria ini senang sekali menebar pesonanya karena memang dia diberi paras yang lumayan amat memikat.
Kalau di anak abg sekarang dia bisa dikatakan php dan suka tebar pesona. Kami terdiam untuk beberapa saat aku masih saja sibuk menenangkan debaran jantungku yang tidak karu-karuan ini dan tetap menunduk memandangi juga memainkan tas. Tiba-tiba tidak tahu bagaimana awal mulanya dia sudah mencium bibirku. Ciuman yang hanya beberapa detik itu membuatku kaget, senang tapi juga takut.
Itu ciuman pertamaku dari pria yang kusukai, yang aku dapatkan tanpa ada sinyal terlebih dahulu. Aku merasakan tubuhku melayang-layang dan sepertinya aku tidak menapak di tanah, badanku panas dingin, mukaku panas sendi-sendiku seperti lepas dari tubuhku. Entahlah kenapa dan ada apa dengan diriku?. Aku masih belum dapat menguasai diriku saat dia mengajakku kembali ke mobil.
Kami berjalan menaiki jalan yang menanjak, jalan berbeda dengan arah jalan kami datang tadi. Karena aku masih sibuk mengontrol diriku, dan masih berusaha untuk menenangkan detak jantungku dan juga perasaanku, dikarenakan pengalaman yang mengagetkan barusan, aku hampir jatuh tapi untung saja dia dengan cekatan menangkap tanganku dan akhirnya dia memegang tanganku sampai kami naik ke atas.
Kami masuk ke dalam bus dan duduk di tempat dudukku tanpa bicara sedikitpun. Tak lama dari arah luar bus terdengar suara teman- teman yang mencari kami.
"Ayo cepat kumpul kita pulang uda sore".
"Adam dan putri masih di bawah tuh"
"panggil, panggil deh udah sore nih".
Ketika mereka naik ke mobil dan ada kami mereka agak kaget.
"ini orangnya udah ada disini" teriak mereka.
Dalam perjalanan pulang itu aku jadi pendiam berbeda sekali dengan ketika berangkat. Aku masih kaget dengan kejadian di tempat wisata tadi. Sebentar-sebentar ku pegang bibirku. Tidak lama bus berjalan bus sudah berhenti kembali di warung oleh-oleh, kami mampir di warung oleh-oleh, semua teman turun untuk membeli oleh-oleh begitu juga aku ikut turun tetapi bingung mau beli apa, si senior membuntutiku dan bertanya:
"mau beli apa?".
aku menjawab: "nggak ah gak beli apa-apa"
lalu kami masuk kembali kedalam bis sampai di tempat dudukku aku melihat teman akrabnya si senior sedang duduk di kursiku, dia sedang berbicara dengan temanku sepertinya mereka akrab atau mereka sudah pacaran.
Aku tidak enak hati untuk memintanya pergi dari kursiku, pembicaraan mereka sepertinya serius sekali. Aku bingung mau duduk dimana karena semua kursi sudah terisi, yang bisa kudapatkan hanya kursi panjang di belakang, kursinya anak laki-laki.
Akhirnya aku duduk di kursi panjang belakang dekat jendela. Melihatku duduk disitu si senior mungkin tidak tega karena cuma aku yang perempuan yang duduk disitu. Diapun ikut duduk menemani di bangku panjang belakang di sebelahku.
Untung buatku bus lewat jalan raya depan rumahku jadinya bisa turun dari bus langsung jalan tanpa nyambung naik mobil lagi. Ketika masuk kerja esok harinya aku jadi bahan pembicaraan teman-teman. Ada yang menyindir, mengolok-olok ada juga yang menggodaku.
Hari-hari berikutnya aku mengetahui dari teman-teman kalau senior-senior pria itu sengaja mendekati kami karena mereka tidak mau bersama-sama dengan senior-senior wanita. Jadi kami diperalat oleh mereka teganya mereka.
Waktu terus berjalan hubunganku dengan si senior diam di tempat. Di bilang ada hubungan tidak juga, karena kami tidak pernah dan memang kami tidak pernah menghabiskan waktu bersama, di bilang tidak ada tapi kenapa si senior berani menciumku. Sepertinya memang kisah cintaku dan perjalanan hidupku tidak manis semanis keinginanku tapi ini sudah takdir yang harus di jalani, entah kapan bisa mendapat semua yang aku mau sesuai dengan keinginanku.